Sunday, January 5, 2014

Tidak Boleh Mencintai

Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? aku tahu.

Aku baru mengenalnya, tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba saja aku sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku.

Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh kudapatkan. Kata-kataku mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, aku rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?

Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya.

Mungkin suatu hari nanti- aku tidak tahu kapan- rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru bertemu kembali.

Sekarang, saat ini saja, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku.
Aku mencintainya.

(Autumn in Paris, Ilana Tan)

Tuesday, December 17, 2013

Bicara Tentang Hati

Kamu yakin atas apa yang udah dan sedang kamu lakukan sekarang? Kamu yakin atas keputusan kamu? Apa kamu yakin udah perlakuin aku dengan cara yang benar?
    Aku gatau apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini. Mau sampe kapan kamu harus perlakuin aku gini? Apa akan terus begini? Yang jelas aku ga selamanya mau diginiin, aku ga akan selalu mau dijadiin boneka pelampiasan kamu.
    Kamu tahu? Aku udah sempet percaya sama kamu, aku udah kasih seluruh kepercayaan aku ke kamu, berharap kamu memang orang yang pantes buat dipercaya. Aku sempet yakin sama ucapan kamu, aku yakin kalo kamu memang bicara seadanya, aku yakin kamu jujur, aku yakin kamu berbeda dari mereka yang sebelumnya.
    Tapi nyatanya? Kamu ga jauh berbeda dari mereka. Aku gatau apa yang aku pikirkan saat ini memang benar kenyataannya atau hanya perasaanku saja. Apa kamu memang sama dengan mereka?
    Selama ini, aku selalu percaya sama kamu, bahkan sampe saat inipun masih ada sisa kepercayaan aku ke kamu. Walaupun kamu udah giniin aku, walaupun aku tahu semua ini cuma buang-buang waktu. 
    Aku ga peduli sama semua yang udah terjadi. Walaupun kamu bilang ga percaya sama aku, aku ga peduli karena memang begini adanya, kenyataannya aku memang percaya sama kamu.
    Kamu harus tahu, aku bukan orang yang mudah kasih kepercayaan ke orang lain. Kamu harus tahu kalau selama ini hanya orang-orang tertentu yang aku percayain. Kamu juga harus tahu kalau kamu adalah salah satu dari orang-orang itu.
    Walaupun aku ga pernah bilang atau lebih tepatnya ga bisa bilang tentang bagaimana dan apa yang aku rasain ke kamu, aku pengen kamu tahu kalau selama ini bahkan sampai saat ini, aku selalu nunggu kamu. Selama ini, sampai saat ini, it's always been you...

Friday, December 13, 2013

Puisi Cinta

Menetes air mata
Berderu membasahi pipi
Terasa kian hampa
Seiring berjalannya waktu
Meluap semua cinta
Melepas kepergian cinta yang selama ini kugenggam
Menetes habis air mata hingga tak dapat lagi menorehkan berapa banyak yang telah terbuang

Terasa kepedihan kian menepi seiring melepasnya
Cinta yang datang dan pergi tak pernah mengerti perasaan
Cinta yang hanya memandang sementara
Tak peduli betapa perih dan kecewanya hati ini
Cinta yang seharusnya ada kini hilang dan musnah

Dan kini smua tlah berakhir
Kau buang namaku di hatimu
Tak ada lgi sisa hatimu untukku
Sirna, hancur, musnah

Cinta yang telah kubangun di padang gerah
Berkubang butiran peluh
Menguras waras yang deras luruh kepadamu
Kini telah kau cabut dari akarnya

Tuesday, October 29, 2013

Aku, kamu, kita

Kubuka satu persatu pesan yang pernah masuk di ponselku. Satu pesan dengan nomor yang tak asing terlihat di antara pesan-pesan lain. Kubuka, kubaca, dan aku ingat kala itu. Hanya sebuah pesan sederhana, pesan singkat di pagi hari yang selalu membangunkanku. Pesan singkat sederhana yang meninggalkan secercah senyum sepanjang hari.

Ingat, saat dulu kita sering menghabiskan waktu bersama? Berbagi dan bercerita banyak hal. Belajar untuk saling mengerti, berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Ingat saat dulu kau dan aku masih menjadi 'kita'? Saat kau berdiri di depan pintu rumahku, saat kau bernyanyi untukku, ataupun saat-saat lainnya. Sesederhana apapun sesuatu yang kita lakukan, asalkan bersama, semuanya menjadi sesuatu yang berarti.

Kau ingat, saat kita menghabiskan waktu berdua, mengobrol, tertawa, bahkan menangis bersama. Menceritakan apa yang kita alami, dan menertawakan apa yang telah kita lewati. Berbagi layaknya sahabat, melindungi layaknya saudara, mengasihi layaknya orangtua. Kau memegang peran berarti dalam hidupku saat itu.

Kau pernah bilang, jika suatu saat aku dan kamu bukanlah kita lagi, ingatlah hari-hari saat aku dan kamu bersama. Kau bilang, jika nanti aku dan kamu sudah menemukan jalan yang berbeda, jangan biarkan jarak memisahkan kita.

Kini, aku dan kamu sudah bukan kita lagi. Aku dan kamu sudah tidak bersama lagi. Aku adalah aku, dan kamu adalah kamu. Tapi kenapa aku dan kamu tidak seperti yang kau bilang waktu itu? Kau bilang jangan biarkan jarak memisahkan kita, tapi nyatanya? Entah sudah berapa jauh jarak terbentang di antara kita? Entah kau atau aku yang membiarkan jarak ini melebar seiring jalannya waktu?

Kini, aku ingat saat-saat kita yang dulu. Aku ingat semua yang pernah kita lalui, aku ingat semua cerita dan tawa yang pernah kita bagi dulu. Hanya saja, sekarang aku sedang tak berbagi bersamamu, aku tak lagi tertawa bersamamu. Apa kau ingat kita saat itu?

Mengingat kau yang sekarang bukanlah kau yang kala itu aku kenal. Kau telah banyak berubah, begitupun aku. Aku banyak belajar dari apa yang pernah aku alami, aku belajar dari kamu, aku belajar dari hubungan kita dulu, aku belajar menjadi lebih baik untuk kehidupanku yang jauh lebih baik lagi.