Thursday, February 18, 2016

Pergilah Cinta!

Olin terdiam saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Kevin. Orang yang pernah membuat Olin jatuh hati. Sudah kurang lebih 2 tahun sejak terakhir kali mereka bertemu, dan kini mereka kembali dipertemukan. Kevin memang pernah menjadi bagian dari cerita cinta Olin, tapi Kevin bukan pacar Olin.

Olin ingat saat dulu ia dan Kevin sering menghabiskan waktu bersama, hampir tiga tahun mereka dekat tanpa ada status hubungan. Tapi itu bukan masalah bagi Olin waktu itu, yang terpenting baginya adalah bisa terus melihat dan bersama Kevin walaupun ia tak bisa memilikinya.

Olin tau apa yang dirasakan Kevin waktu itu bukan hal biasa, Olin tau Kevin merasakan hal yang berbeda terhadap Olin. Kevin pernah mengungkapkan perasaan pada Olin tanpa memintanya untuk membalas pernyataan itu. Hal itu bukan membuat Olin senang karena Kevin ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi hal itu malah membuat Olin bingung. Kenapa ia tak pernah bertanya bagaimana perasaan Olin padanya?

Saat itu, Olin sadar, mungkin ia bukan orang yang diinginkan Kevin. Mungkin ia memang bukan orang yang tepat untuk Kevin, mungkin lebih baik ia menjauh dari Kevin sebelum rasa cinta yang ia rasakan semakin dalam.

Awalnya Olin tak rela melepas perasaannya terhadap Kevin, berulang kali Olin berharap semoga saja Kevin memang orang yang tepat untuknya. Namun, Olin kembali pada niat awalnya untuk melupakan Kevin sejak Olin tau bahwa Kevin telah memiliki pacar. Olin mulai melupakan perasaannya pada Kevin walaupun sebenarnya, diam-diam, ia masih mengingat dan mengharapkan Kevin yang dulu kembali padanya.

Sekarang, saat Olin sudah terbiasa bersama orang lain, saat Olin sudah bersusah payah mencoba menghapus perasaannya, Kevin datang kepadanya, berdiri di hadapannya, meminta Olin bersamanya.

"Maaf Vin, mungkin aku bukan orang yang tepat buat kamu."
"Kamu selalu jadi orang yang tepat buat aku Lin," Kevin menarik dan menggenggam sebelah tangan Olin meyakinkan.
"Maaf Vin, tapi aku udah ada orang lain yang lebih menghargai perasaanku," pelan-pelan Olin melepaskan genggaman tangan Kevin, tapi Kevin menolak.

Kini tak hanya sebelah tangan, Kevin meraih kedua tangan Olin, "tapi bukannya dulu kita selalu bersama? Apa kamu sudah lupa dengan semua yang sudah kita lewati? Apa semudah itu kamu melupakannya?"
"Mudah? Nggak Vin, sama sekali nggak mudah. Kamu tau udah berapa banyak waktu yang aku sia-siain cuma buat nyoba ngelupain kamu?" Kevin diam menunduk sambil tetap menggenggam tangan Olin.

"Seharusnya aku yang bertanya-tanya, apa maksud kamu ninggalin aku waktu itu dan pergi dengan cewek lain? Apa perasaan kamu waktu itu memang benar-benar buat aku? Kalo iya, kenapa Vin? Kenapa kamu ngelakuin hal yang nggak seharusnya kamu lakuin? Kenapa kamu nggak pernah minta aku buat ngungkapin apa yang aku rasain waktu itu?" Olin melihat Kevin tertunduk tak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Udahla Vin, sekarang kita udah punya kehidupan masing-masing, kita nggak selamanya harus terpaku sama masa lalu, aku udah milih kehidupan aku sendiri, aku udah punya orang lain yang aku harap ga bakal ngecewain aku," Olin mencoba menjelaskan dengan tenang.

Sejenak Kevin membangkitkan kepalanya yang tertunduk, "Kehidupan apa Lin? Bagi aku nggak ada kata 'masing-masing' antara kamu dan aku, kita adalah kita, kita bukannya aku saja atau kamu saja," Kevin menatap Olin penuh harap, "Bukannya dulu aku pernah minta kamu buat nunggu? Apa kamu terlalu lelah nunggu aku sampai kamu lebih milih buat ngelupain aku?" mata cokelat Kevin terus menatap Olin sungguh-sungguh.

Olin tersenyum singkat, "Nunggu? Sampe kapan aku harus nunggu Vin? Sampe kapan aku terus nutup hati cuma karena aku ga mau kamu kecewa kalau nanti ada orang lain yang berhasil masuk hati aku dan gantiin kamu? Sampe kapan juga aku harus nahan hati ngeliat kamu sama orang lain? Udah cukup aku nyakitin hati aku sendiri, aku berhak buat milih, kalo memang semua yang aku perjuangin selama ini cuma buang-buang waktu mungkin lebih baik aku nyerah, mungkin kita memang nggak bisa sama-sama."

"Aku yakin kamu salah, aku yakin apa yang kamu pikirin selama ini nggak bener Lin, aku cuma belum siap buat nerima yang terburuk waktu itu, aku cuma belum siap buat tau gimana perasaan kamu waktu itu," suara Kevin terdengar lirih di telinga Olin, seakan-akan meyakinkan kalau selama ini apa yang dipikirkan Olin memang salah. 

Olin tau Kevin mencoba meyakinkannya, Kevin mencoba membuat Olin mengingat tentang seberapa penting dirinya bagi Kevin waktu itu. Olin ingat, selalu ingat, baris demi baris memori, bait demi bait kejadian-kejadian yang pernah mereka alami, Olin ingat dan Olin yakin ia tak akan  pernah melupakan itu.

"Kamu bilang kamu ga siap nerima yang terburuk waktu itu? Itu berarti kamu egois Vin. Kamu selalu ada waktu buat ngungkapin perasaan kamu tapi kamu nggak pernah kasih aku kesempatan buat ngungkapin apa yang aku rasain. Kamu pikir apa yang terjadi sama aku waktu itu? Kamu pikir apa yang aku rasain waktu itu?" Kevin hanya diam mencerna kata-kata Olin, "Kamu terlalu sibuk sama perasaan kamu hingga kamu lupa sama perasaan aku, iya kan?" Olin melanjutkan sambil mencoba menahan emosi yang selama ini disimpannya.

Cukup lama keheningan menyelimuti mereka, baik Olin maupun Kevin, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Cuaca terik saat itu bagaikan tak sampai di kepala mereka yang sedang berdiri saling berhadapan di teras cafe itu.

"Kalo memang ditakdirin buat sama-sama, pasti ada jalan buat kita seperti dulu lagi, pasti ada waktu buat aku balikin lagi perasaan aku yang dulu ke kamu Vin," Olin memecah hening dengan kata-katanya, sebenarnya Olin tak butuh waktu untuk bisa mengembalikan perasaannya pada Kevin seperti dulu karena Olin yakin perasaannya ke Kevin masih sama seperti dulu, Olin yakin selama ini ia tak benar-benar membuang jauh perasaanya pada Kevin, Olin yakin selama ini ia hanya menyimpan dan mengubur perasaannya pada Kevin. Hanya saja, bagi Olin melihat Kevin saat ini seperti membuka kembali luka lama yang telah berusaha ia sembuhkan, bagi Olin bersama Kevin saat ini hanya mengingatkannya pada masa lalu yang tak pernah ia inginkan sebelumnya.

"Mungkin sekarang memang bukan waktunya lagi buat aku nunggu kamu, tapi nggak ada alasan yang bikin kamu nggak nunggu aku," Olin menatap tangannya yang saat ini sedang digenggam Kevin dan melanjutkan kata-katanya, "Mungkin sekarang keadaannya sudah berubah, mungkin sekarang giliran kamu yang nunggu aku. Kalo kamu memang nggak main-main, kamu pasti mau nungguin aku, kalo memang perasaan kamu pantes buat diperjuangin kamu pasti nggak bakal nyerah sampe sini."

"Sekarang saatnya kamu buktiin apa yang pernah kamu bilang, tentang perasaan kamu, tentang janji kamu dulu Vin, sampai perasaan aku utuh buat kamu, kamu pasti mau nungguin aku."

Kevin tak berkedip menatap Olin, ia tak bisa menebak isi hati Olin, apa Kevin yang sekarang terlalu asing bagi Olin? Apa Kevin sudah terlalu lama membuat Olin menunggu?

"Tapi itu bukan berarti aku maksa kamu buat nunggu Vin, kalo kamu memang nggak mau nunggu nggak masalah, berarti perasaan aku memang benar, mungkin kamu memang bukan orang yang tepat," Olin menarik napas dalam sambil mencoba menahan air matanya, "Kalo kamu memang nggak mau nunggu berarti perasaan kamu ke aku selama ini salah, anggap saja kenangan kita hanya sesaat, atau kamu juga boleh menganggap apa yang terjadi di antara kita nggak pernah ada."

Kevin tersenyum singkat, terlalu singkat, saking singkatnya Olin sampai tak yakin kalau Kevin benar-benar tersenyum.
"Nggak ada alasan buat aku nggak perjuangin perasaan aku. Mungkin memang selama ini aku salah karena terlalu lama buat kamu nunggu, mungkin memang sekarang udah saatnya aku ngerasain apa yang pernah kamu rasain dulu," Kevin menatap mata hitam kecokelatan Olin yang mulai berkaca, ia tahu Olin sedang berusaha untuk tidak menangis di hadapannya, sekali lagi ia menatap mata itu dengan sungguh-sungguh, "Aku nggak bakal ngerusak hubungan kamu yang sekarang, aku nggak bakal ngerusak kebahagiaan yang mungkin nggak sempet kamu rasain saat kamu nunggu aku, mungkin sekarang kamu nggak bisa nerima aku lagi, tapi aku yakin masih ada kesempatan buat aku walaupun sedikit," ucap Kevin lirih.

Kata-kata itu seolah menutup pembicaraan mereka siang itu. Perlahan Olin merasakan genggaman tangan Kevin mulai merenggang, hingga akhirnya Kevin benar-benar melepaskan tangannya, berbalik, dan pergi berjalan meninggalkan cafe itu, meninggalkan Olin.

Olin tau Kevin kecewa, Olin tau betul apa yang ada di benak Kevin saat melihatnya begitu keras mempertahankan apa yang telah dimilikinya sekarang. Olin mengerti bagaimana perasaan Kevin saat berusaha meyakinkan Olin hal yang sebenarnya, Olin betul-betul mengerti bagaimana perasaan Kevin tadi karena ia juga merasakannya.

Perlahan tangis yang sedari tadi ditahannya pecah, tetes demi tetes air mata mulai jatuh, membasahi pipi dan tangannya.

Olin ingin Kevin mengerti kalau apa yang dirasakan Olin selama ini bukan hal biasa, Olin ingin Kevin mengerti betapa ia dengan susah payah mencoba menghapus perasaannya terhadap Kevin, walaupun pada akhirnya ia hanya berhasil memendam dan mengubur perasaan itu di hatinya. Olin sadar apa yang diucapkannya tadi tak benar-benar apa yang dirasakannya, walaupun bibirnya berusaha menolak perasaan Kevin tapi hati kecilnya tak bisa bohong, perasaannya terhadap Kevin ternyata masih tak bisa dihilangkannya dari dulu, hingga saat ini, perasaannya masih sama, perasaannya masih tinggal di hati Kevin, sejak dulu hingga kini, dan ia yakin perasaan ini akan selalu ada.
-selesai-

Tuesday, January 5, 2016

Menangis dalam Diam


Pernah tidak berada di antara orang banyak namun merasa sendirian?
Pernah tidak merasa ingin didengarkan tanpa harus mengucapkan?
Pernah tidak menangis di antara orang banyak namun tak satupun tau?

Aku pernah. Aku pernah berada di antara orang banyak namun tetap merasa sendiri. Aku pernah merasa ingin didengarkan tanpa harus mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku pernah menangis tersedu di antara orang banyak namun tak satupun dari mereka yang tau.

Kalian tau bagaimana rasanya menyembunyikan luka?
Kalian tau bagaimana beratnya menangung beban sendirian?
Kalian tau bagaimana sakitnya berusaha menyembunyikan kesedihan demi terlihat "tidak apa-apa" oleh mereka di sekililing kita? Bahkan orang terdekat-pun tidak tau.

Aku pernah, berusaha bercerita dan berbagi kesedihan, berharap semuanya cepat berlalu, berharap semuanya kembali normal. Namun terkadang, apa yang orang pikir dengan apa yang kita rasa sayangnya tak selalu sama. Terkadang, berbagi tak selamanya membuat keadaan lebih baik. Terkadang, yang mendengarkan tak selamanya selalu mengerti.

Aku pernah, sering sekali, berusaha mempercayai seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah ini. Tapi, pada akhirnya, aku lebih memilih diam, menyimpan semua masalah seakan tak terjadi apa-apa, seakan semuanya baik-baik saja.

Kesal? Iya. Aku selalu kesal dengan diriku sendiri. Terkadang aku lebih membiarkan orang lain salah paham tentang kelakuanku daripada aku harus membuka mulut dan menjelaskan semua pada mereka.
Lelah? Tentu. Setiap orang punya batasan. Dan aku, entah sampai kapan akan terus seperti ini? Entah sampai kapan akan terus diam?

Karena bagiku, tak ada yang lebih mengerti aku selain diriku sendiri, tak ada yang membuatku merasa lebih baik selain deraian  air mata yang membasahi pipi. Karena saat emosi telah mengukuh jiwa akan mampu membuat mata berkaca, saat sepatah kata yang terucap akan mampu membuat setetes air mata jatuh. Saat semua kekesalan dan kesedihan menumpuk dan diluapkan dengan tangisan akan mampu membuat hati ini lebih tenang.

Aku begini bukan karena tidak ada satupun yang peduli, aku begini bukan karena ingin diperhatikan lebih. Aku begini karena memang ini adanya. Inilah aku yang selama ini mungkin selalu terlihat "baik" di depan kalian. Inilah aku yang selama ini mungkin selalu terlihat tak ada beban. Inilah aku dengan semua ego dan kemunafikan, munafik terhadap diri sendiri demi menutup diri.

Aku sering, sering sekali, menangis memikirkan keadaan, berperang dengan emosi, sampai aku puas, sampai aku benar-benar merasa baik, lalu aku menghela nafas, mengangkat tanganku menghapus air mata, berdiri seakan semua telah usai, seakan tak terjadi apa-apa.

Sunday, January 5, 2014

Tidak Boleh Mencintai

Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? aku tahu.

Aku baru mengenalnya, tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba saja aku sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku.

Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh kudapatkan. Kata-kataku mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, aku rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?

Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya.

Mungkin suatu hari nanti- aku tidak tahu kapan- rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru bertemu kembali.

Sekarang, saat ini saja, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan, aku ingin mengaku.
Aku mencintainya.

(Autumn in Paris, Ilana Tan)

Friday, December 20, 2013

Cerita Di Balik Senja


Langit kelabu membawa senja
Menuai cinta menggores luka
Mengurai cerita menyibak perih
Luka lama tersirat kembali

Tangis harap dan gores ingatan
Menyingkap kenangan di balik waktu
Memecah tawa hati ini
Menggali memori yang terkubur dalam

Terlalu banyak memori yang ingin dihapus
Terlalu berat kenangan yang ditanggung
Terlalu lelah hati ini berharap
Terlalu sakit perasaan ini mengenang derita

Senyummu kini luka bagiku
Tawamu kini beban untukku
Manis yang dulu ada kini menjadi racun
Keindahan yang sempat ada kini pupus bersama waktu

Angin malam membawa sunyi
Membawa lelah hati ini
Bunga yang bersemi kini menjadi mati
Meninggalkan luka dalam memori

(Rekha Putri A)

Tuesday, December 17, 2013

Bicara Tentang Hati

Kamu yakin atas apa yang udah dan sedang kamu lakukan sekarang? Kamu yakin atas keputusan kamu? Apa kamu yakin udah perlakuin aku dengan cara yang benar?
    Aku gatau apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini. Mau sampe kapan kamu harus perlakuin aku gini? Apa akan terus begini? Yang jelas aku ga selamanya mau diginiin, aku ga akan selalu mau dijadiin boneka pelampiasan kamu.
    Kamu tahu? Aku udah sempet percaya sama kamu, aku udah kasih seluruh kepercayaan aku ke kamu, berharap kamu memang orang yang pantes buat dipercaya. Aku sempet yakin sama ucapan kamu, aku yakin kalo kamu memang bicara seadanya, aku yakin kamu jujur, aku yakin kamu berbeda dari mereka yang sebelumnya.
    Tapi nyatanya? Kamu ga jauh berbeda dari mereka. Aku gatau apa yang aku pikirkan saat ini memang benar kenyataannya atau hanya perasaanku saja. Apa kamu memang sama dengan mereka?
    Selama ini, aku selalu percaya sama kamu, bahkan sampe saat inipun masih ada sisa kepercayaan aku ke kamu. Walaupun kamu udah giniin aku, walaupun aku tahu semua ini cuma buang-buang waktu. 
    Aku ga peduli sama semua yang udah terjadi. Walaupun kamu bilang ga percaya sama aku, aku ga peduli karena memang begini adanya, kenyataannya aku memang percaya sama kamu.
    Kamu harus tahu, aku bukan orang yang mudah kasih kepercayaan ke orang lain. Kamu harus tahu kalau selama ini hanya orang-orang tertentu yang aku percayain. Kamu juga harus tahu kalau kamu adalah salah satu dari orang-orang itu.
    Walaupun aku ga pernah bilang atau lebih tepatnya ga bisa bilang tentang bagaimana dan apa yang aku rasain ke kamu, aku pengen kamu tahu kalau selama ini bahkan sampai saat ini, aku selalu nunggu kamu. Selama ini, sampai saat ini, it's always been you...